November 5, 2026

ITRANSNEWS.COM

iTransNews.com

FIFA DAN PSSI SAMBANGI PERSEBAYA FUTURE LAB, BONGKAR KUNCI PEMBINAAN TALENTA MUDA DARI AKAR RUMPUT

SURABAYA – Masa depan sepak bola Indonesia tak cukup dibangun dengan mendatangkan pemain bintang atau mengandalkan klub-klub profesional. Fondasi sesungguhnya justru dimulai dari lapangan latihan, kompetisi usia muda, hingga klub amatir yang menjadi pintu pertama lahirnya pesepak bola berbakat.

Persoalan inilah yang menjadi perhatian FIFA dan Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) saat mengunjungi Persebaya Future Lab di Stadion Gelora Bung Tomo (GBT), Surabaya, Rabu (28/10/2026). Kunjungan tersebut menjadi momentum untuk melihat langsung bagaimana proses pembinaan pemain muda dijalankan, sekaligus menakar kesiapan ekosistem sepak bola dari level akar rumput.

Bukan sekadar kunjungan seremonial, FIFA dan PSSI berdiskusi mengenai sejumlah aspek penting dalam pengembangan sepak bola, mulai dari sistem pembinaan akademi, pengelolaan klub amatir, hingga kompetisi yang menjadi ruang bagi pemain muda untuk mengasah kemampuan dan mengukur perkembangan mereka.

Rombongan tersebut dihadiri Technical Lead FIFA Global Football Development Division Jamie Houchen, Direktur Teknik PSSI Alexander Zwiers, Kepala Persebaya Future Lab Ganesha Putra, serta Direktur Amatir Persebaya Saleh Hanifah.

Salah satu perhatian utama dalam diskusi ini adalah keberadaan Liga Persebaya yang berada di bawah naungan Persebaya Amatir. Kompetisi tersebut menjadi bagian penting dalam memberikan kesempatan kepada pemain muda untuk mendapatkan pengalaman bertanding secara terstruktur.

Sebab, talenta berbakat tidak akan berkembang maksimal apabila hanya mengandalkan latihan. Pemain membutuhkan kompetisi yang konsisten, lingkungan pembinaan yang mendukung, serta jalur perkembangan yang jelas agar memiliki kesempatan menembus level permainan yang lebih tinggi.

FIFA TURUN LANGSUNG, PETAKAN KEBUTUHAN SEPAK BOLA DAERAH

Technical Lead FIFA Global Football Development Division Jamie Houchen mengatakan, kunjungan ke Persebaya Future Lab merupakan bagian dari rangkaian kerja bersama PSSI untuk memahami kondisi dan perkembangan sepak bola di berbagai daerah di Indonesia.

FIFA ingin melihat secara langsung bagaimana klub menjalankan program pembinaan, mengelola sistem pengembangan pemain, serta menghadapi tantangan yang berbeda-beda di setiap wilayah.

“Kunjungan kami hari ini adalah bekerja sama dengan PSSI untuk memahami lebih jauh kondisi dan perkembangan sepak bola di seluruh Indonesia. Kunjungan ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan yang akan membawa kami ke berbagai daerah, mulai dari klub amatir hingga klub profesional,” ujar Houchen.

Menurutnya, pemahaman terhadap kondisi nyata di lapangan menjadi modal penting untuk menyusun program pengembangan yang sesuai dengan kebutuhan sepak bola Indonesia.

Setiap klub memiliki karakteristik, tantangan, dan pendekatan pembinaan yang berbeda. Karena itu, program pengembangan tidak bisa hanya mengandalkan satu pola yang diterapkan secara seragam tanpa mempertimbangkan kebutuhan daerah.

“Kami ingin melihat secara langsung bagaimana setiap klub menjalankan programnya, bagaimana sistem pembinaan mereka bekerja, serta berbagai upaya positif yang telah dilakukan untuk mengembangkan sepak bola,” jelasnya.

KOMPETISI AMATIR JADI JEMBATAN MENUJU SEPAK BOLA PROFESIONAL

Salah satu pekerjaan penting dalam membangun sepak bola yang berkelanjutan adalah memastikan pemain muda memiliki kesempatan berkembang secara bertahap.

Akademi berperan membentuk kemampuan teknis dan karakter pemain. Sementara itu, kompetisi menjadi tempat untuk menguji hasil latihan dalam situasi pertandingan sesungguhnya.

Dalam konteks tersebut, Liga Persebaya memiliki peran sebagai salah satu wadah pembinaan di tingkat amatir. Kompetisi yang terstruktur dan berlangsung konsisten dapat membantu pemain memperoleh pengalaman, meningkatkan kualitas permainan, serta membuka peluang untuk melangkah ke jenjang yang lebih tinggi.

Bagi Persebaya, pembinaan pemain muda juga membutuhkan kerja sama antarelemen sepak bola. Akademi, klub amatir, kompetisi, dan klub profesional perlu terhubung agar potensi pemain tidak berhenti di tengah jalan.

Inilah salah satu aspek yang menjadi perhatian dalam upaya memperkuat fondasi sepak bola Indonesia, yakni membangun jalur pengembangan yang berkesinambungan dari akar rumput hingga level profesional.

FIFA DAN PSSI BIDIK PENGEMBANGAN JANGKA PANJANG

Houchen menegaskan, rangkaian kunjungan ke berbagai daerah di Indonesia diharapkan dapat membantu FIFA dan PSSI mengidentifikasi kebutuhan nyata klub serta peluang perbaikan dalam sistem pembinaan.

Program pengembangan sepak bola, menurutnya, harus memberikan manfaat yang dapat dirasakan langsung oleh klub dan komunitas setempat, bukan sekadar menjadi agenda di atas kertas.

“Kami ingin memastikan program-program tersebut benar-benar mendukung kebutuhan di daerah dan memberikan dampak berkelanjutan bagi perkembangan sepak bola Indonesia,” ujar pria asal Inggris tersebut.

Ia juga berharap hasil kunjungan tersebut dapat menjadi bahan untuk memperkuat kolaborasi dengan PSSI, termasuk membangun struktur pengembangan sepak bola yang lebih kuat hingga tingkat provinsi.

“Setelah kunjungan ini, kami berharap bisa terus bekerja sama dengan PSSI untuk membangun struktur pengembangan sepak bola yang lebih kuat hingga tingkat provinsi,” kata Houchen.

Langkah ini menjadi penting karena keberhasilan sepak bola nasional tidak hanya ditentukan oleh performa tim utama di turnamen internasional. Kualitas pembinaan, pemerataan kesempatan, serta keberlanjutan kompetisi di daerah turut menentukan seberapa besar potensi pemain yang dapat dikembangkan.

PERSEBAYA FUTURE LAB SIAP BERBENAH

Sementara itu, Direktur Akademi Persebaya Future Lab Janu Ramadanis menyambut positif kunjungan FIFA dan PSSI. Menurutnya, pertemuan tersebut menjadi kesempatan bagi Persebaya untuk berbagi pengalaman sekaligus mendapatkan perspektif baru dalam pengembangan pemain muda.

“Ini menjadi kehormatan bagi Persebaya Future Lab karena bisa berdiskusi dan berbagi pengalaman dengan FIFA serta PSSI. Kami akan terus berbenah dan menjaga komitmen dalam membina pemain muda. Harapannya, semakin banyak talenta yang berkembang dan mampu melangkah ke level yang lebih tinggi,” tandas Janu.

Kunjungan FIFA dan PSSI ke Persebaya Future Lab sekaligus menyoroti satu hal mendasar dalam pembangunan sepak bola Indonesia: melahirkan pemain berbakat membutuhkan lebih dari sekadar akademi yang baik.

Diperlukan kompetisi yang berjalan konsisten, sistem pembinaan yang terarah, serta kolaborasi antara federasi, klub profesional, akademi, dan klub amatir.

Dari Surabaya, upaya memperkuat fondasi tersebut menjadi bagian dari pekerjaan panjang untuk memastikan talenta muda Indonesia memiliki ruang berkembang, kesempatan bertanding, dan jalur yang lebih jelas menuju sepak bola profesional.