SURABAYA – Pemerintah Kota Surabaya bersama Kedaibilitas memperkuat kolaborasi pembangunan inklusif pada tahun 2026. Dalam audiensi yang berlangsung di Balai Kota Surabaya, Jumat (17/7/2026), Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi tidak hanya mengevaluasi sejumlah program yang telah berjalan, tetapi juga memberikan penugasan khusus kepada Kedaibilitas untuk menyiapkan sebuah gagasan baru yang diharapkan memberi manfaat bagi Masyarakat dan khususnya Generasi Muda Kota Surabaya.
Pertemuan tersebut membahas berbagai isu strategis, mulai dari penanganan penyandang disabilitas, pemberdayaan perempuan, perlindungan anak, hingga penguatan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Hadir dalam audiensi tersebut jajaran Pemerintah Kota Surabaya, Kedaibilitas, serta relawan dari Perkumpulan Ojek Online Perempuan Surabaya (POPSA).
Pembina Kedaibilitas, Andi, mengatakan pertemuan tersebut menjadi bagian dari evaluasi berbagai program kolaborasi yang selama ini telah dijalankan bersama Pemerintah Kota Surabaya sekaligus menyusun langkah-langkah baru untuk menjawab berbagai persoalan masyarakat.
“Kami datang bukan hanya membawa laporan, tetapi juga membawa berbagai masukan dari masyarakat. Kedaibilitas berupaya hadir untuk membantu Pemerintah Kota dalam persoalan disabilitas, perempuan, anak, pendidikan, hingga pemberdayaan ekonomi masyarakat. Kami percaya persoalan kota akan lebih cepat selesai apabila pemerintah dan masyarakat berjalan bersama,” kata Andi.
Salah satu persoalan yang mendapat perhatian dalam audiensi tersebut adalah penanganan penyandang disabilitas di Kelurahan Rungkut Kidul.
Menurut Andi, kepedulian masyarakat di wilayah tersebut patut diapresiasi karena melibatkan berbagai unsur, mulai dari warga, Ketua RT, Ketua RW hingga Lurah Rungkut Kidul.
“Kami melihat bagaimana warga, RT, RW dan lurah benar-benar hadir mendampingi penyandang disabilitas. Semangat seperti inilah yang perlu terus diperkuat karena persoalan sosial tidak bisa hanya diselesaikan oleh satu pihak,” ujarnya.
Namun demikian, Andi menilai keberhasilan di tingkat wilayah perlu diikuti dengan respons cepat dari perangkat daerah agar pelayanan kepada penyandang disabilitas dapat dilakukan secara optimal.
Menanggapi hal tersebut, Wali Kota Surabaya langsung mengarahkan Dinas Sosial Kota Surabaya untuk segera melakukan tindak lanjut sesuai kebutuhan yang telah disampaikan dalam pertemuan tersebut.
Selain isu disabilitas, Andi juga menyoroti pentingnya komunikasi yang baik antar perangkat daerah.
Ia memberikan apresiasi kepada Kepala Dinas Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah serta Perdagangan (DINKOPUMDAG) Kota Surabaya, Mia Santi Dewi, yang dinilai konsisten membangun komunikasi dan kolaborasi dengan pelaku UMKM maupun komunitas.
“Kami mengapresiasi pola komunikasi yang dibangun Bu Mia. Menurut kami, pola kepemimpinan seperti itu perlu menjadi contoh karena masyarakat maupun komunitas membutuhkan kepastian komunikasi. Jangan sampai persoalan yang sama mendapatkan jawaban berbeda dari setiap tingkatan,” katanya.
Andi menegaskan bahwa komunitas hadir bukan untuk mencari kesalahan pemerintah, melainkan menjadi mitra dalam menyelesaikan persoalan masyarakat.
“Kami berada di lapangan membantu Pemerintah Kota. Kami berkomunikasi dengan pejabat publik karena kami percaya mereka memiliki kewenangan untuk menyelesaikan persoalan masyarakat. Kalau komunikasi berjalan baik, maka penyelesaiannya juga akan jauh lebih cepat.”
Ia kemudian menutup penyampaiannya dengan sebuah peribahasa Jawa.
“Ojok ndangak-ndangak, engkok nek kesandung gugur, loro loh yo.”
Menurut Andi, pesan tersebut mengingatkan bahwa jabatan merupakan amanah sehingga setiap pemimpin perlu tetap rendah hati, dekat dengan masyarakat, dan membuka ruang komunikasi seluas-luasnya.
Dalam audiensi tersebut turut hadir relawan Kedaibilitas dari unsur Perkumpulan Ojek Online Perempuan Surabaya (POPSA), Fitri dan Angel. Keduanya menyampaikan perlunya keberlanjutan program pemberdayaan bagi para pengemudi ojek online perempuan di Kota Surabaya.
Menanggapi aspirasi tersebut, Wali Kota mengingatkan bahwa Pemerintah Kota Surabaya telah memulai program pemberdayaan Ojol
Perempuan sejak tahun 2022 melalui pelatihan keterampilan dan bantuan permodalan usaha.
Program tersebut bertujuan agar para pengemudi perempuan memiliki sumber penghasilan tambahan sehingga tidak harus bekerja hingga larut malam dan memiliki lebih banyak waktu bersama keluarga.
Pada kesempatan tersebut, Andi mengusulkan pembentukan Rumah Usaha Bersama POPSA sebagai model pemberdayaan baru bagi Ojol Perempuan Surabaya.
Usulan itu mendapat respons positif dari Wali Kota. Ia meminta Asisten 3 bersama Kepala Dinas Sosial untuk melakukan pendataan anggota POPSA yang ber-KTP Surabaya dengan masa kepemilikan minimal sepuluh tahun sebagai dasar penyusunan program.
Tidak hanya itu, Wali Kota juga meminta agar para suami anggota POPSA turut dihadirkan dalam pertemuan berikutnya.
Menurut Andi, arahan tersebut menunjukkan bahwa pemberdayaan perempuan perlu dibangun dengan dukungan keluarga sehingga program pemerintah dapat berjalan lebih efektif dan berkelanjutan.
Dalam dialog tersebut juga dibahas sejumlah program kolaborasi yang telah terealisasi, di antaranya Rumah Anak Prestasi (RAP) dan program 1 OPD 1 Disabilitas.
Andi menjelaskan bahwa kedua program tersebut berawal dari gagasan yang disampaikan kepada Wali Kota dan kemudian mendapatkan dukungan penuh hingga diwujudkan menjadi program Pemerintah Kota Surabaya
“Pak Wali adalah sosok yang cepat mengambil keputusan ketika sebuah gagasan dinilai memberikan manfaat bagi masyarakat. Rumah Anak Prestasi berkembang dalam waktu yang relatif singkat, begitu juga dengan program 1 OPD 1 Disabilitas yang saat ini telah menjadi bagian dari penguatan pelayanan inklusif di Kota Surabaya,” ujarnya.
Melihat hasil berbagai kolaborasi tersebut, Wali Kota kembali memberikan penugasan khusus kepada Andi untuk menyiapkan sebuah konsep baru yang akan menjadi bagian dari pembangunan Kota Surabaya.
Meski demikian, Andi belum bersedia mengungkapkan secara rinci isi penugasan tersebut
“Saya meminta izin kepada Pak Wali untuk belum menyampaikan detailnya kepada publik. Ini merupakan amanah yang cukup besar dan membutuhkan proses yang panjang. Insyaallah, jika waktunya tepat, kami akan menyampaikan kepada masyarakat. Mohon doa agar amanah ini dapat kami wujudkan menjadi sesuatu yang benar-benar bermanfaat bagi generasi muda Kota Surabaya,” kata Andi.
Sebelum audiensi berakhir, Andi juga menegaskan pentingnya peran kelurahan sebagai ujung tombak pelayanan masyarakat
Menurutnya, persoalan yang muncul di tingkat wilayah akan lebih cepat terselesaikan apabila dibangun komunikasi yang terbuka, koordinasi yang kuat, serta kolaborasi yang baik antara pemerintah, masyarakat, komunitas, dan seluruh pemangku kepentingan.
Pertemuan yang berlangsung hampir dua jam tersebut menghasilkan sejumlah kesepahaman untuk memperkuat sinergi antara Pemerintah Kota Surabaya dan Kedaibilitas dalam pengembangan program di bidang disabilitas, perempuan, anak, pendidikan, dan UMKM.
Menutup audiensi, Wali Kota Surabaya kembali menyampaikan pesan yang menjadi penyemangat bagi seluruh masyarakat.
“Arek Suroboyo, ojok wedi… ojok kesuwen… Gasss!”
Pesan tersebut menjadi penutup dari rangkaian audiensi yang menegaskan komitmen Pemerintah Kota Surabaya dan Kedaibilitas untuk terus memperkuat kolaborasi dalam mewujudkan pembangunan yang inklusif, responsif, dan memberi manfaat bagi seluruh warga Kota Surabaya.
Berita Lainnya
Polda Jatim Bongkar Peretasan 260 Website, Tersangka Jual Domain untuk Promosi Judi Online
TIM TANGKAP BURON KEJARI SURABAYA BERHASIL MENANGKAP TERPIDANA PENIPUAN 10 MILYAR*
IJTI Surabaya Desak Presiden Prabowo Minta Maaf Terbuka Atas Sebutan “Londo Ireng” bagi Wartawan