SURABAYA – Menguatnya nilai tukar dolar Amerika Serikat hingga menembus level Rp17.800 lebih per dolar ternyata tidak selalu membawa keuntungan bagi pelaku usaha penukaran uang asing.
Di tengah memanasnya konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah, aktivitas transaksi valuta asing justru mengalami penurunan drastis.
Ketegangan yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran di kawasan Selat Hormuz memicu kekhawatiran di pasar keuangan global. Dampaknya, nilai tukar rupiah terus tertekan dan membuat dolar AS berada di level tinggi.Kondisi ini memang menguntungkan sebagian masyarakat yang telah lama menyimpan dolar sebagai aset investasi.
Mereka memanfaatkan momen penguatan dolar untuk menukarkan simpanannya ke rupiah dengan nilai yang lebih besar.Salah satunya Rini, warga Surabaya, yang menukarkan 300 dolar AS di sebuah money changer di kawasan Jalan Panggung. Dari transaksi tersebut, ia memperoleh lebih dari Rp5,2 juta.
“Karena kebetulan sedang membutuhkan dana dan nilai dolar sedang tinggi. Saya tukar 300 dolar dan mendapatkan sekitar Rp5.280.000,” ujarnya.
Namun situasi berbeda dirasakan para pelaku usaha penukaran uang asing. Alih-alih menikmati keuntungan, mereka justru menghadapi lesunya pasar akibat ketidakpastian global.
Pemilik modal memilih menahan dolar dengan harapan nilainya masih akan terus naik. Di sisi lain, calon pembeli menunda transaksi karena berharap kurs kembali turun. Akibatnya, aktivitas jual beli valuta asing hanya terjadi untuk kebutuhan yang benar-benar mendesak.
Pemilik salah satu money changer di Surabaya, Arifin Saibo, mengungkapkan bahwa volume transaksi saat ini merosot hingga 90 persen dibandingkan kondisi normal. Menurutnya, pasar valuta asing sedang berada dalam fase “saling tunggu”. Penjual enggan melepas dolar karena berharap harga naik, sementara pembeli menahan diri karena berharap harga turun.
“Yang jual menunggu harga naik lagi, yang mau beli berharap turun. Akhirnya transaksi hanya terjadi jika memang ada kebutuhan mendesak. Dibandingkan kondisi normal, transaksi turun sampai 90 persen,” kata Arifin.
Ia memperkirakan kondisi tersebut masih akan berlangsung selama satu hingga dua bulan ke depan, bergantung pada perkembangan konflik di Timur Tengah.
Arifin berharap situasi global segera membaik sehingga nilai tukar kembali stabil dan aktivitas ekonomi dapat bergerak88 normal.Di tengah tingginya harga kebutuhan pokok dan melemahnya daya beli masyarakat, gejolak ekonomi global dinilai semakin menambah beban masyarakat.
Karena itu, pelaku usaha berharap ketegangan geopolitik segera mereda agar perekonomian kembali pulih dan aktivitas perdagangan berjalan lebih lancar. (yan)
Berita Lainnya
Polda Jatim Kembalikan Motor Korban Curanmor dan Begal Tanpa Biaya
Polda Jatim Ungkap 320 Kasus 3C dan Kejahatan Jalanan Selama Mei 2026
Di Tengah Gejolak Timur Tengah, HUT ke-11 PT MNJ Gaungkan Sholawat dan Doa untuk Kedamaian Dunia.