Januari 17, 2026

ITRANSNEWS.COM

iTransNews.com

174 Meninggal, 79 Hilang dan 12 Luka-Luka Akibat Bencana Hidrometeorologi di Aceh, Sumut dan Sumbar

SILANGIT – Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Suharyanto melaporkan perkembangan terkini penanganan bencana hidrometeorologi yang melanda Provinsi Sumatera Utara, Aceh, dan Sumatera Barat. Dalam konferensi pers di Bandara Silangit, Tapanuli Utara, Jumat (28/11), ia menyebutkan sebanyak 174 orang meninggal dunia, 79 hilang, dan 12 luka-luka.

Menurut Suharyanto, pendataan masih terus berlangsung di sejumlah wilayah terdampak sehingga jumlah korban berpotensi bertambah.

Sumatera Utara: 116 Meninggal, 42 Hilang

Di Sumatera Utara, BNPB mencatat 116 korban meninggal dunia dan 42 orang hilang. Para korban tersebar di sejumlah wilayah, yakni:

Tapanuli Utara: 11 orang

Tapanuli Tengah: 51 orang

Tapanuli Selatan: 32 orang

Kota Sibolga: 17 orang

Humbang Hasundutan: 6 orang

Kota Padang Sidempuan: 1 orang

Pakpak Barat: 2 orang

Mandailing Natal: nihil korban jiwa

“Data ini masih dapat berkembang. Masih ada titik-titik longsor yang belum bisa ditembus,” ujar Suharyanto.

Sejumlah infrastruktur turut terdampak, termasuk putusnya jalur nasional Sidempuan–Sibolga serta jalur Sipirok–Medan. Di Mandailing Natal, ruas Singkuang–Tabuyung dan Bulu Soma–Sopotinjak terputus akibat banjir dan longsor. Upaya pembukaan akses masih berlangsung dengan pengerahan alat berat.

Penyaluran logistik telah dilakukan di Tapanuli Tengah dan Mandailing Natal berupa beras, makanan siap saji, tenda, terpal, dan perlengkapan keluarga. Pemerintah pusat juga menurunkan personel BNPB, TNI/Polri, serta bantuan Presiden berupa alat komunikasi, genset, LCR, kompresor, dan tenda.

Gangguan jaringan telekomunikasi menjadi hambatan utama, sehingga BNPB mengoperasikan perangkat Starlink di sejumlah posko pengungsian dan titik terdampak.

Aceh: 35 Meninggal, 25 Hilang

Di Provinsi Aceh, BNPB mencatat 35 korban meninggal dunia, 25 orang hilang, dan 8 luka-luka. Korban terbanyak berasal dari Bener Meriah, Aceh Tenggara, dan Aceh Tengah.

Sebanyak 4.846 kepala keluarga (KK) mengungsi yang tersebar di 20 kabupaten/kota, termasuk 96 titik pengungsian di Kota Lhokseumawe.

Kerusakan parah juga terjadi pada akses transportasi, termasuk jalur nasional perbatasan Sumut–Aceh yang terputus akibat longsor serta kerusakan jembatan di Meureudu yang memutus konektivitas Banda Aceh–Lhokseumawe–Aceh Timur–Langsa–Aceh Tamiang.

Beberapa wilayah seperti Gayo Lues, Aceh Tengah, dan Bener Meriah bahkan tidak dapat diakses melalui jalur darat. Mobilisasi logistik dilakukan melalui jalur udara menggunakan Bandara Perintis Gayo Lues dan Bandara Rembele Bener Meriah.

BNPB juga menempatkan perangkat Starlink di beberapa lokasi untuk menjaga kelancaran komunikasi darurat. Sementara itu, bantuan Presiden dikirim menggunakan tiga pesawat Hercules yang membawa beras, gula, minyak, mie instan, alat komunikasi, tenda, dan genset.

Sumatera Barat: 23 Meninggal, 12 Hilang

Di Sumatera Barat, tercatat 23 korban meninggal dunia, 12 hilang, dan 4 luka-luka. Korban tersebar di Padang Panjang, Tanah Datar, Agam, Kota Padang, dan Pasaman Barat.

Sebanyak 3.900 KK mengungsi di berbagai titik, termasuk 50 titik di Pesisir Selatan dan beberapa titik di Kota Padang, Kabupaten Solok, Pasaman, dan Tanah Datar.

Kerusakan infrastruktur meliputi lima jembatan rusak di Padang Pariaman, longsor pada jalur nasional Bukittinggi–Padang di Padang Panjang, serta jalur provinsi di Kabupaten Agam. Sekitar 200 kendaraan dilaporkan sempat terjebak akibat terputusnya akses di Kecamatan Ampek Koto.

Bantuan logistik darurat telah disalurkan di Tanah Datar dan Kota Bukittinggi, serta dukungan tambahan dari Presiden berupa alat komunikasi, tenda, genset, dan LCR.

Operasi Modifikasi Cuaca Dilakukan Serentak

Sebagai langkah mitigasi atas meningkatnya risiko banjir dan longsor, BNPB menggelar Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) serentak di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.

Aceh: OMC dimulai Jumat (28/11) menggunakan pesawat PK-SNP dari Bandara Sultan Iskandar Muda.

Sumatera Utara: OMC dimulai Kamis (27/11) dari Bandara Kualanamu, dengan empat sortie dan penyemaian 3.200 kg NaCl dan CaO.

Sumatera Barat: OMC dijadwalkan mulai Sabtu (29/11) dengan pesawat PK-DPI dan PK-SNK melalui Bandara Internasional Minangkabau.

Intervensi ini bertujuan mengalihkan awan hujan ke lokasi yang lebih aman guna mengurangi curah hujan di wilayah rawan bencana.

BNPB Pimpin Penanganan Darurat di Tiga Provinsi

Kepala BNPB saat ini memimpin langsung penanganan darurat di Sumatera Utara dari Silangit bersama Deputi Penanganan Darurat, Mayjen TNI Budi Irawan.

Penanganan di Aceh dipimpin Deputi Rehabilitasi dan Rekonstruksi, Jarwansyah, sementara penanganan darurat di Sumatera Barat dipimpin Sekretaris Utama BNPB, Rustian.

BNPB menegaskan bahwa koordinasi lintas pemerintah daerah, TNI/Polri, relawan, dan kementerian/lembaga terus diperkuat untuk percepatan pembukaan akses, distribusi logistik, serta pencarian korban.(Don)