Maret 5, 2026

ITRANSNEWS.COM

iTransNews.com

Bagaskara Terbang ke Langit.

Oleh Mulia Nasution (wartawan, praktisi komunikasi publik )

Takdir hidup dari Yang Maha Kuasa itu acap berupa pukulan dahsyat. Tiba-tiba datangnya. Menyentak seketika. Bikin seluruh jiwa melayang. Dan malam itu saya amati Pak Bernad Dermawan Sutrisno begitu tabah, meski saya dapat menebak belahan jiwanya berkeping-keping di dalam hati.Puluhan kawan-kawannya datang dari berbagai penjuru Tanah Air untuk menyampaikan duka mendalam, hanya tersisa sedikit senyum merekah di bibir beliau.

Petuah pemuka agama pada Sabtu malam (7/1) setelah tahlilan memberi warna cerah bagi pemahaman tentang musibah dan takdir hidup yang tak bisa meleset. Begitu hukum semesta berlangsung tanpa sedetik pun meleset.

Malam itu saya bertemu kembali dengan alumni IPDN lintas angkatan. Diskusi panjang sambil guyon dengan Pak Asmin Safari Lubis yang setahun terakhir bertugas di Bawaslu Provinsi Riau.

Jumpa Pak Ferry “Pablo” Syahminan, dulu lama bertugas di Kementerian Desa dan kini bergabung dengan KPU (Komisi Pemilihan Umum) RI.

Jumpa Pak Ferdinand Sirait (IPDN 04) yang kini Sekjen Bawaslu (Badan Pengawas Pemilu) RI. Jumpa Pak Endar Purnawan (IPDN 16) yang kini bertugas di Badan Pangan Nasional. Banyak lagi,termasukKomisioner KPU dan Komisioner Bawaslu RI.

Kehadiran mereka buat meneguhkan jiwa Pak Bernad,sebab pukulan ini pastilah menghujam begitu dahsyat. Palu Godam yang kejam namun harus dimaknai dengan tawadu sebagai ujian bagi manusia selaku hamba.

Malam itu ingatan saya melayang jauh ke tahun 2014. Pemilu dan Pilpres yang penuh dinamika. Saat itu saya memimpin satu portal berita politik yang berkantor di ruko tiga tingkat di Jl Duren Tiga Raya,Jakarta Selatan. Waktu itu sekitar 50 awak redaksi senior saya pimpin seperti Sayadi, Dadang Sugandi, Ario Damar, Miller Aba, Yosman Mansyur, Aji, Michael Johan Bosco, Mohammad Soehardi, Noer Gepeng Risman,serta lainnya.

Pertarungan kandidat Prabowo Subianto dan Joko Widodo begitu dahsyat kala itu. Hujatan dan penelanjangan pribadi Prabowo Subianto sangat pribadi, telanjang dan jorok. Sebagai anak bangsa terdidik saya malu calon pemimpin bangsa ditelanjangi secara vulgar. Indonesia bukan negara barat seperti Amerika yang “desperate” dan pemimpin tertingginya munafik.

Bukan. Kita punya falsafah Pancasila. Tapi, revisi Undang-undang Dasar 45 membuka peluang negara kita terjerumus pada perang tanding penuh maksiat karena sogok-menyogok dan upeti bagi suara rakyat seolah legal. Jokowi “the raising star” politisi yang dikesankan “humble” dibangun dengan citra adiluhung, kesan mendalam sebagai wong ndeso berkat polesan public relations dan bedak harum yang bau tengik.

Kepada tim redaksi setiap meeting saya tekankan agar media kami obyektif dan menghindari kampanye buruk,apalagi fake news,atau komentar yang menghantam pribadi. Haram hukumnya kalau media jatuh pada gaya “koran kuning”. Pilpres itu seharusnya perang gagasan bagi kampanye demi kesejahteraan masyarakat dan keluhuran bangsa. Bukan buat kekuasaan yang kemaruk dan mementingkan libido berkuasa semata. Bahkan dalam hitungan internal portal yang saya pimpin dan survei sederhana intern, Prabowo akan unggul tipis.

Namun hasil akhir KPU berbeda. Saya tak perlu ungkapkan di sini data-data “undercover” yang terjadi selama Pilpres. Yang jelas, dua buku Pemilu dapat saya rangkum dan tulis usai Pilpres.

Saya masih terbayang-bayang pertemuan saya dan Pak Bernad berdua di rumahnya di kawasan Jaksel tahun 2014. Kami ngobrol panjang tentang kemungkinan terburuk saat Pilpres 2014 berlangsung. Meski berteman, kami tetap menjaga indepedensi dan integritas masing-masing. Lalu, di sela-sela obrolan, saya menyampaikan takjub melihat replika Russian Set Kereta Api di rumahnya dan ada pula anak kecil bermain di samping permainan hobi itu. Belakangan baru saya tau, ternyata itulah Bagaskara Langit Kresna Putra Sutrisno yang masih 7 tahun. Bagaskara Langit yang terbang ke langit pada usia 19 tahun menjelang 20. Bagaskara tidak luka apapun. “Semua bagian tubuh Bagas gak ada yang tergores,Bang.Saya mengikuti dan mengawal di rumah sakit pada malam kejadian kecelakaan tunggal itu, mungkin saja ada luka dalam di tubuhnya,” kata Pak Asmin Lubis,suaranya serak terdengar pilu.

Kejadian Kamis malam yang kelabu bagi Bagaskara. Tapi,begitulah kehendak Yang Maha Kuasa. Semula saya menduga,putra yang meninggal dunia itu adalah Surya, putra birokrat yang jadi bintang iklan dan selalu tampil dengan riang saat masih Sekolah Dasar. Ternyata adiknya Surya, yaitu Bagaskara.

Pernah ada peluang tampil yang sulit saya enyahkan. Suatu kepercayaan dan kehormatan,sebenarnya.

Malam itu saya berdiri di depan ratusan alumni IPDN ( Institut Pemerintahan Dalam Negeri) yang berkumpul di Park Hyatt Hotel di Kebon Sirih,Jakarta Pusat. Mereka adalah birokrat dari berbagai wilayah Tanah Air. Materi yang saya sampaikan tentang Komunikasi Politik dan Peran Strategis Birokrasi. Sedianya seorang Kandidat Wakil Presiden yang akan menutup Seminar itu dan akan tampil memberi wejangan tapi ” last minute” membatalkannya. Saat itu info intelejen yang rahasia memang bisa mengubah dan membuat keputusan berubah.

⁹Maklum, pertarungan dua faksi 08 dan Jkw memang “killing field”. “Perang darat” dan “Perang Udara” bukan hanya di halaman depan,tetapi juga di halaman belakang, bahkan di kamar rahasia.

Saya paham, pada Pilpres tahun 2009 beberapa sahabat saya sudah terjun sebagai tim media satu kandidat akibat pecah kongsi antara Susilo Bambang Yudhoyono dengan Jusuf Kalla. Saya mengikuti “perang” Baratayudha versi “undercover”-nya.

“Secret information” jatuh ke tangan saya, tapi tak boleh dibocorkan narasumbernya. Begitulah seorang jurnalis harus bersikap. Saya tau berkarung-karung duit “cash” diantar ke beberapa Stasiun Televisi untuk biaya iklan Capres dan sebagainya.

Waktu itu orang yang kita anggap kawan dapat saja mata-mata yang menyamar. Sebagai wartawan yang berada di lapangan sejak 1984, saya paham permainan politik yang “abu-abu”. Sebagai wartawan yang lama bertugas di VIP Bandara Polonia Medan tahun 1990-an awal, saya sudah punya koneksi dengan tokoh-tokoh kunci politik Orde Baru. Siapa pun Menteri Kabinet Pembangunan Pak Harto yang mau mengadakan kunjungan ke Sumatera Utara, pasti tidak bisa lolos dari “cegatan” saya dan rekan wartawan lain yang “ngepos” di VIP Bandara Polonia Medan.

Kalau lolos pasti dapat “SP” dari Pimpinan Surat Kabar Mimbar Umum yang Redaktur Eksekutif-nya Eddi Elison dan tak lain bos saya ketika masih bekerja di Surat Kabar Waspada Group. Apalagi Mimbar Umum kala itu berada di bawah manajemen Surya Persindo milik Pak “Bewok” Surya Paloh.

Bobol berita adalah aib yang sangat memalukan di tengah persaingan media yang “barbar”. Karena itu akses “vital” ke narasumber VIP tetap saya jaga untuk kebutuhan informasi, namun tetap menjaga jarak jauh kalau itu menyangkut hal yang pribadi.

Saya merasa beruntung memulai karir jurnalistik dari Sekolah Jurnalistik yang luar biasa menerapkan etika, integritas,kejujuran,kompetensi, komitmen dan awaknya tetap rendah hati. Waspada Group didirikan oleh seorang pejuang dan sejarawan H.Mohammad Said (1905 – 1995) pada 11 Januari 1947. Kemudian masa jaya Waspada diteruskan oleh istri beliau, Bunda Hajjah Ani Idrus (1918 – 1999). Di sini saya belajar dan mendapat kesempatan sangat luas untuk berkarya, berkat mentor yang hebat seperti As Atmadi, Eddi Elison, Marwan Effendi, IzHarry Agusjaya Moenzir, serta rekan sejawat Mas Susdha S Satya Dharma. Waspada Medan adalah candra kawah dimuka yang sesungguhnya bagi jurnalis pemula. Saya masih berproses. Masih belajar,termasuk soal momen ajaib yang membuat Bagaskara terbang ke langit menemui Sang Khalik.