Tegal — Rektor Universitas Harkat Negeri, Sudirman Said, menegaskan bahwa guru dan dosen adalah aset bangsa yang harus dimuliakan, bukan dianggap beban negara. Karena itu, kesejahteraan guru harus ditingkatkan.
Pernyataan ini ia sampaikan menanggapi gagasan mantan Menteri Perdagangan Gita Wirjawan dalam Public Lecture bersama Gita Wirjawan di Universitas Harkat Negeri, Tegal, Kamis (21/8/2025). Dalam acara itu, Gita Wirjawan mengusulkan gaji guru ditingkatkan secara signifikan hingga mencapai Rp30–40 juta per bulan.
“Guru bukan beban, tapi aset bangsa yang harus dimuliakan. Karena itu saya mendukung gagasan untuk meningkatkan perbaikan kesejahteraan guru dan dosen secara radikal,” tegas Sudirman Said.
Menurutnya, pemberian upah tinggi tidak hanya akan memuliakan profesi pendidik, tetapi juga menciptakan kompetisi sehat bagi mereka yang ingin menekuni dunia pendidikan.
“Kalau yang berminat banyak, otomatis yang akan terpilih sebagai pendidik adalah putra-putri terbaik bangsa. Mutu guru dan pendidikan ke depan dipastikan akan meningkat tajam,” lanjutnya.
Sudirman menambahkan, keuangan negara sebenarnya mampu membayar gaji guru dan dosen dalam jumlah layak, asalkan kebocoran akibat korupsi bisa diatasi.
Sudirman mensimulasikan secara sederhana, jika guru digaji Rp25 juta per bulan. Dengan jumlah guru se-Indonesia sekitar 3 juta orang, kebutuhan anggaran untuk gaji guru mencapai Rp75,75 triliun per bulan atau sekitar Rp909 triliun per tahun. Ditambah kebutuhan untuk sekitar 300 ribu dosen yang jika digaji setara menyedot Rp7,59 triliun per bulan atau Rp91,1 triliun per tahun, total kebutuhan gaji guru dan dosen mencapai Rp83,34 triliun per bulan atau Rp1.000,1 triliun per tahun.
Angka tersebut memang sangat besar, namun menurut Sudirman tetap realistis bila dibandingkan dengan total APBN Indonesia yang direncanakan tahun 2026 yang sudah menembus Rp3.786,5 triliun.
“Daripada untuk proyek-proyek yang tidak jelas manfaatnya, lebih baik digunakan untuk meningkatkan mutu guru, dosen, pemimpin sekolah, dan kampus-kampus. Itu investasi jangka panjang untuk bangsa,” katanya.
Gita Wirjawan menyebut bahwa reformasi kesejahteraan guru ini bisa dilakukan bertahap, baik dalam besaran gaji maupun cakupan jumlah guru dan dosen. Dengan kesejahteraan guru yang jauh lebih tinggi, baik Gita maupun Sudirman optimistis profesi pendidik akan menjadi pilihan utama bagi talenta terbaik bangsa, bukan sekadar alternatif. Pendidikan yang kuat, kata mereka, hanya bisa dibangun dengan menaruh guru di tempat terhormat, sebuah langkah strategis agar Indonesia mampu bersaing di tingkat global.
Gita Wirjawan sebelumnya menegaskan pentingnya menempatkan guru pada posisi terhormat dengan kesejahteraan yang memadai. Ia menilai bangsa Indonesia membutuhkan guru yang berfungsi sebagai role model, yang mampu menanamkan ambisi dan imajinasi kepada murid-muridnya.
“Bangsa kita butuh melatih ambisi dan imajinasi, dilatih oleh role model, dalam hal ini guru yang bertugas menyuntikkan ambisi dan imajinasi. Kalau guru hanya digaji 500 ribu sulit untuk menyuntikkan ambisi dan imajinasi pada muridnya. Kalau guru digaji dengan cara yang sangat berkenan, mereka akan bisa melejitkan murid,” tegas Gita.(iso)
Berita Lainnya
Para Advokat Senior Surabaya Dukung Penuh Hariyanto Calon Ketua Umum DPN PERADI
Arus Mudik Baru 25 Persen Tinggalkan Jakarta
Polri Selidiki Dugaan Kasus Penyiraman Air Keras terhadap Aktivis Kontras